Monday, 21 November 2011

Lelaki ini mengaku telah memeluk sekitar 30 juta orang


LONDON, KOMPAS.com - Seorang guru spiritual dariIndia mengatakan telah memeluk sekitar 30 juta orang dalam upaya menyebarkan pesan cinta kasih ke seluruh dunia.

Amma, yang memiliki nama asli Mata Amritanandamayi, membuka tangannya bagi setiap orang. Dia tidak memandang kebangsaan, agama, golongan, ataupun status sosial mereka. Dia memeluk orang miskin hingga para pesohor seperti Russell Brand, Sharon Stone, dan Susan Sarandon.

Pada Rabu (16/11/2011), ribuan orang rela menanti selama enam jam di Alexandra Palace, London, demi mendapatkan pelukan perempuan berusia 57 tahun itu.

"Setiap orang setara. Saya hanya mengalir seperti sungai, bergantung pada kapasiti setiap orang untuk memahami dan membuka diri serta menerima orang lain," ujar Amma kepada Hollywood Reporter beberapa waktu lalu.

"Saya melihat setiap orang sebagai kepanjangan diri saya. Ketika tangan kiri sakit, tangan kanan yang mengelusnya. Saya melihat orang lain sebagai diri saya sendiri," imbuhnya.

Kemanapun Amma pergi di seluruh dunia, dia selalu diikuti 250 orang sukarelawan. Merekalah yang mengurusi dapur, mengelola jadual Amma yang sagat padat, serta mengatur ribuan orang yang berbaris untuk mendapatkan pelukan perempuan yang dijuluki "The Hugging Saint".

Amma tidak sekadar memeluk. Setiap orang dipeluknya erat-erat sambil mengusap lembut punggung orang itu. Selama memeluk itu, Amma bersenandung. Dia lalu memegang lengan orang itu lalu mengguncangnya seperti seorang bayi.

Sudah 30 tahun Amma menyebarkan kasih sayang melalui pelukan. "Ketika berusia tujuh tahun, saya biasa berkunjung ke rumah-rumah tetangga. Di desa saya, pekerjaan utama warganya adalah mencari ikan. Jika tangkapan ikannya cukup, Anda boleh makan. Kalau tidak, ya Anda kelaparan," Amma menjawab pertanyaan bagaimana dia memulai 'safari pelukan' itu.

"Sejak itu saya tekun mendengarkan keluh kesah orang. Dari situlah semuanya berawal," ucapnya.

Selama enam bulan setiap tahunnya, Amma berkeliling dunia. Enam bulan sisanya, dia habiskan di India. Itupun bukan untuk bersantai-santai.

Dia mendirikan sebuah hospital berkapasiti 1.300 pesakit di kota kelahirannya, Kerala. Dia juga menjadi konselor di Universitas Amrita. Di perguruan tinggi itu dia berupaya memberdayakan perempuan melalui pendidikan.

No comments:

Post a Comment